Koneksi Antar Materi Modul 2.3
Coaching Supervisi Akademik
Oleh : Thian Hendrawan, S.Pd
CGP Angkatan 6 Tahun 2022
A. Pemikiran Reflektif terkait pengalaman Belajar
Setelah mempelajari Modul 2.3 tentang Coaching Supervisi Akademik didapat beberapa pengetahuan baru bagi saya mengenai pentignya coaching supervisi akademik. Coaching merupakan sebuah proses kolaborasi yang berbentuk kemitraan untuk memaksimalkan potensi pribadi dan professional yang dimiliki coachee dengan difasilitasi oleh coach melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif. Proses coaching ini berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis untuk meningkatkan performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi coachee. Berkaitan dengan peran saya sebagai seorang coach di sekolah, dengan melihat pemaparan materi coaching dalam modul 2.3, saya menilai diri saya telah melakukan beberapa komponen/kompetensi coaching seperti kehadiran penuh, mendengarkan aktif dan mengajukan pertanyaan yang berbobot dalam setiap percakapan yang saya lakukan dengan siswa. Ketika membaca materi tentang coaching ini saya merasa tidak asing lagi, hanya saja mungkin percakapan seperti coaching ini hanya baru saya lakukan terhadap siswa saja. Namun setelah mempelajari modul ini saya menjadi berpikir ingin melakukannya juga terhadap rekan sejawat untuk membantu dan sama-sama mengembangkan kompeternsi diri dalam pelayanan terhadap siswa
Keterkaitan keterampilan coaching ini dengan materi lain di modul 2 ini adalah bahwa proses coaching ini sangat membantu para pendidik dan peserta didik dalam pengembangan dirinya. Dalam modul 2 ini, sebelum mempelajari coaching terlebih dahulu mempelajari tentang pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosional. Dengan mempelajari kedua materi tersebut kita menjadi tahu bagaimana membuat pembelajaran menjadi lebih berbobot, sehingga tidak hanya identik dengan banyaknya materi tapi juga mengakomodir keunikan siswa dan menjadi lebih bermakna. Dengan faham akan kualitas pembelajaran, seorang coach akan lebih mampu menjadi fasilitator bagi pengembangan keprofesional rekan guru untuk melakukan pembelajaran kepada siswa dalam kegiatan supervisi akademik atau dalam kegiatan lainnya
Keterampilan coaching ini sangat diperlukan bagi seorang pemimpin. Guru sebagai pemimpin pembelajaran wajib memiliki keterampilan untuk mengembangkan peserta didiknya. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan seorang guru memiliki kewajiban untuk menuntun siswa dalam mencapai kekuatan kodrat yang dimilikinya sehingga mencapai keselamatan dan kebahagian setinggi-tingginya. Untuk dapat menuntun siswa mencapai tujuan hidupnya diperlukan seorang guru yang memiliki keterampilan sebagai coach yang mampu mengembangkan kompetensi yang ada dalam diri siswa.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
B. Analisis untuk Implementasi dalam Konteks CGP
Coaching adalah bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif. Coach memberi beberapa saran alternatif solusi sedangkan coachee yang memilih solusi terbaik yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai coachee.
Ketrampilan yang harus dimiliki seorang coach
- keterampilan membangun dasar proses coaching
- keterampilan membangun hubungan baik
- keterampilan berkomunikasi
- keterampilan memfasilitasi pembelajaran
4 unsur utama yang mendasari prinsip komunikasi yang memberdayakan
- Hubungan yang saling mempercayai
- Menggunakan data yang benar
- Bertujuan menuntun para pihak untuk optimalisasi potensi
- Rencana tindak lanjut atau aksi
4 aspek komunikasi yang mendukung praktek coaching
- Komunikasi Asertif
- Pendengar aktif
- Bertanya efektif
- Umpan balik positif
- Komunikasi Asertif
Adalah komunikasi dua arah antara coach dan coachee yang timbul karena rasa nyaman dan percaya. Untuk mencapai hal tersebut yang perlu diperhatikan oleh seorang coach adalah menyamakan kata kunci, menyamakan Bahasa tubuh dan menyelaraskan emosi
- Pendengar Aktif
Seorang coach yang baik akan mendengar lebih banyak dan kurang berbicara. Teknik Pendengar aktif yaitu Memberikan perhatian penuh pada lawan bicara kita dalam menyampaikan pesan, Tunjukkan bahwa kita mendengarkan, menanggapi perasaan dengam tepat, menegaskan kembali makna pesan yang disampaikan dengan menggunakan kalimat kita sendiri, dan bertanya untuk mendorong lawan bicaranya menguraikan lebih lagi keyakinan atau perasaannya.
- Bertanya efektif
Yaitu pertanyaan terbuka yang mengekploarasi pilihan dan potensi coache,memberi pertanyaan yang mengarahkan
- Umpan Balik Positif
Umpan balik dalam coaching bertujuan untuk membangun potensi yang ada pada coachee dan menginspirasi mereka untuk berkarya. Coachee memaknai umpan balik yang disampaikan sebagai refleksi dan pengembangan diri. Secara khusus diberikan pada coachee ketika dalam process coaching, ada hal-hal yang tidak terduga muncul atau hasil dari coaching ini berbeda dari yang coachee pikirkan
Model Coaching TIRTA
TIRTA dikembangkan dari satu model coaching yang dikenal sangat luas dan telah diaplikasikan, yaitu GROW model. GROW adalah kepanjangan dari Goal, Reality, Options dan Will. Pada tahapan 1) Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini, 2) Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee, 3) Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi. Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.
TIRTA merupakan akronim dari Tujuan Umum, Identifikasi, Rencana aksi dan tanggung Jawab
Tujuan umum adalah pertanyaan yang mengawali komunikasi antara coach dan coache, Indentifikasi berisi pertanyaan -pertanyaan terhadap permasalahan yang dihadapi coachee, Rencana aksi adalah alternative alternative solusi yang bisa diambil oleh coachee dan tanggung jawab adalah aksi yang tepat yang akan diambil dari coachee untuk menyelesaikan masalahnya.
C. Membuat Keterhubungan
- Filososfi KHD
Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. oleh sebab itu peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses coaching, murid diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.
- Pembelajaran Deferensiasi
Deferensiasi konten, proses dan produk menjadi salah satu proses ‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Program ini dapat membuat murid menjadi lebih merdeka dalam belajar untuk mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya. Harapannya, proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam belajar.
- Pembelajaran Sosial dan Emosional
Salah satu ketrampilan KSE yaitu Kesadaran diri mengelola emosi seorang coache terhadap cochee merupakan kunci keberhasilan coaching. Dengan ketrampilan Sosial berempati dengan permasalahan coachee dalam hal ini murid yang memiliki permasalahan dalam pembelajaran akan membantu coachee mengambil keputusan yang bertanggung jawab yang pada akhirnya membantu proses pembelajaran dikelas nyaman,aman dan kondusif.





